Friday, August 14, 2015

Little Thing I Need : Support

My ankle was injured yesterday, meanwhile i'm in Paskibra and i gotta bring the flag Wooooooo 🙌

It sucks, but this little thing made my day.
I found it on my desk after I had a super long training for the ceremony.

Thanks friend, i really appreciate it. It's the sweetest thing ever that i got this week.

Words are stronger than what you think



Wednesday, August 12, 2015

Homeward Bound


...
Bind me not to the pasture
Chain me not to the plow
Set me free to find my calling
And I'll return to you somehow

If you find it's me you're missing
If you're hoping I'll return,
To your thoughts I'll soon be listening,
And in the road I'll stop and turn

Then the wind will set me racing
As my journey nears its end
And the path I'll be retracing
When I'm homeward bound again
...

Homeward Bound - Mormon Tabernacle Choir 


Pagi ini aku mendapat pesan kembali dari Mom, seperti biasanya. Lega rasanya ketika tahu operasi Mom sudah selesai. Tadi pagi perasaan gundah itu masih ada. Aku berangkat ke sekolah seperti sedia kala. Kulanjutkan membaca bacaan singkat mengenai pengalaman seseorang yang juga baru berkelana dan mengalami sindrom Homesick part 2. Aku tenggelam dalam bacaan itu, teringat sosok Mom yang sedang menjalani perawatan di rumah sakit. Salah satu temanku membuyarkan lamunanku walau aku sedang memegang buku, memerintahkanku untuk menyiapkan barisan karena bel akan berdering sebentar lagi. Aku hanya diam dan tidak menggubris, dia mulai meneriakkiku dengan kata yang aku rasa tidak pantas. Aku memandangnya dan berkata, "Nanti aja, beri saya waktu". Dia diam, akupun terdiam juga. Tak lama dia tetap meneriakiku lagi secara tidak sopan, lagi.

Rasa kesal itu ada, bercampur dengan rasa rindu yang sudah tak terbendung. Ivana datang dan memberikanku pelukan. 

She literally knew what I need. She was standing right next to me while I was sitting on the chair. My head was under her chest. I couldn't handle my self so I just cried while I hugged her. She asked me if I was comfortable talking about it in the girls restroom. I heard the same guy that yelled at me earlier saying, "Cengeng" with a Woooo sound. If i were him, I would just shut my mouth up, like seriously can you not?

I haven't talk about what I felt about my post-exchange feeling to anybody in real person. Not that I don't have time about it. It's just I haven't met the right person to talk about it, or might be right situation. Like I don't wanna cry and be that melting-cheesy kind of person in front of someone that I barely know. And it's my problem, not their problem. Most people only interested in these kinds of questions "How do you ngehedon in US?" , "Wah jalan-jalan mulu nih", "Cerita dong seru yaa". I don't wanna give them a bad impression about my experience in US. I realize that people always expect more, and I don't wanna lower their expectation. I guess, even my mom and my sister are too tired to listen to this melancholy part of Ellen. 

Ivana was the right person, she is my close friend and she has been through the same thing. We talked for a while, she let me talk and I appreciated that. It's true that adapting post-exchange is more difficult than adapting during the exchange year itself. Most people in my host-community understood when I cried because I miss my family so much, because they knew that I left home. I remember that day I was in choir class, Aurora (an exchange student from Norway) was crying when we sang Homeward Bound. Most of the choir student supported and gave her a hug. FYI, It was a big class with about 90 people.
Then the wind will set me racing
As my journey nears its end
And the path I'll be retracing
When I'm homeward bound again

 I realize that it is different now. Like people won't think that I miss another home, they knew that  I am home already. This is my home. But I knew that I had another home.

Home is where the heart is
- The Hobbit


Thanks those people who made me stronger day by day.


Tuesday, August 11, 2015

Kembali

Musim Gugur

Musim dingin

Musim Semi




Pagi ini aku terbangun, aku memandang langit-langit kamarku dan terpampang bendera merah putih di atas kepalaku. Kulihat jua lemari tepat diseberang pandanganku. Aku menyadari bukan tembok pink atau hijau lagi yang kulihat di sekeliling, bukan kamar yang biasa aku tempati. Ada piala cross country terpajang di sana, dengan bingkai foto keluargaku di samping. Disusul bendera Bob Marley milik hostdad ku tergantung di lemari buku kecil di sudut pintu.

Aneh..
Sudah hampir setahun lamanya aku di sini, ada rasa haru yang memuncak. Joule yang biasanya bersembunyi di bawah kasurku, duduk di pangkuanku. Kucing hitam berbulu lebat ini hanya bermain dengan ekornya. Kuelus kepalanya yang lembut. Hostmom mengetuk pintu kamarku seperti biasa. "Ellen", panggilnya. Ia datang dengan koper di sebelah kanannya memelukku selamat datang kembali. Aku menangis menyadari bahwa aku kembali ke rumah lainku, tempat dimana aku memiliki keluarga keduaku, bertemu orang baru-baru yang tentunya menjadi bagian dari hidupku. 


Aku menyadari bahwa itu hanyalah buah tidur. Aku terbangun di kamarku sesungguhnya dengan cat pink & hijau. Tidak ada lagi bendera Bob Marley tergantung di lemari buku. Tidak ada lagi lemari putih yang berada di seberang tempat tidurku. Mamaku membangunkanku dari mimpiku. Ikatan hubungan suatu tempat dan antar individual memang amat kuat. Sempat menyadari bahwa mimpi tersebut amat nyata.

Columbia, Maryland memang rumahku. Bandung dan Tangerang juga adalah rumahku. Tahun ini, aku mempunyai keluarga baru yang menyambutku dan membiarkanku menjadi bagian dari keluarga mereka dengan kasih yang setia. Aku bertemu banyak orang di lingkungan baik di sekolah yang membuatku menyadari bahwa banyak hal di dunia ini yang indah, terlebih perbedaan. Aku mengingat hari pertama menginjakkan kaki di Amerika Serikat, 12 Agustus 2014, tepat satu tahun lalu, kaki ini gemetar karena tak percaya buah perjuangan ini terbayar sudah, menandakan perjalanan baru dalam hidupku akan dimulai. Tak disangka sudah satu tahun lamanya.

Banyak orang bertanya apa yang aku rasakan mengenai kepulangan, semangatkah? Sedihkah? Atau menyesal? Tentu bercampur aduk. Aku bersyukur bahwa aku telah kembali bertemu dengan keluargaku dan teman-teman yang lama tak jumpa. Tapi tak dipungkiri bahwa rasa sedih itu ada.

Memang jika dipikir kembali, apakah yang lebih susah? Membangun kehidupan selama 16 tahun dan meninggalkannya untuk 1 tahun berkelana. Atau membangun kehidupan selama 1 tahun dan meninggalkan itu untuk selamanya.

Namun aku menyadari bahwa tidak ada hal yang konstan selamanya. Banyak aspek dalam hidup ini yang sementara. 

Mengutip kutipan dari Tere Liye,
" Bolehkah menyatakan kerinduan? 
Perasaan kepada seseorang?
Tentu saja boleh. 
Tapi jika kita belum siap untuk mengikatkan diri dalam hubungan yang serius, 
ikatan yang bahkan oleh negara pun diakui dan dilindungi, 
maka sampaikanlah perasaan itu pada angin saat menerpa wajah, 
pada tetes air hujan saat menatap keluar jendela, 
pada butir nasi saat menatap piring, 
pada cicak di langit-langit kamar saat sendirian dan tak tahan lagi hingga boleh jadi menangis. "

Disana, aku selalu mempunyai tempat untuk mengadu ketika merindukan keluarga dan teman-teman di tanah air. Jembatan ini terletak di dekat halaman belakang rumah host-family ku.

Dari musim gugur, musim dingin hingga musim semi, tampaknya berbeda. Ketiganya indah, namun kumenyadari bahwa keindahannya masing-masing bersifat sementara. Walaupun kondisinya berbeda, tetap memiliki makna tersendiri bagiku.


Banyak hal yang membuatku merasa kecewa. Tapi aku menyadari bahwa lebih banyak lagi hal yang membuatku tersenyum dan bersyukur akan apa yang terjadi.


PS : Aku sudah mulai menulis jurnal kembali di blog. Silahkan http://ciamique.blogspot.com/ 
link unicornflakes sudah tidak berlaku.