Friday, September 18, 2015

94th day

Today is the 94th day since I went back home. It's been a tiring week, so far. 

Yesterday i read a blog post about the writer's experience on going on exchange year. I realized that things are not going easy during the exchange year nor post-exchange year.

Luckily, i had a classmate who has going through the same thing, studying abroad.
This week has been a tiring week, but i am glad i'm getting closer to her again. It's been a long time I haven't talk about exchange year.

Time has flown so fast this year huh.

Wednesday, September 16, 2015

Keluarga

"Keluarga adalah rumah bagi hati yang lelah dan siap untuk mengikat hubungan, tanpa hubungan darah sekalipun".


*****

Saya menyukai melihat hubungan antar individual. Itu mencerminkan jati diri manusia yang sejati. Sangat menarik bahwa ketika saya menjalani masa exchange saya di Amerika Serikat, saya menemukan suatu fakta bahwa bahasa juga dapat mengubah sikap seseorang. Ketika saya berbicara bahasa Indonesia, saya cenderung menjadi "Ellen" yang bebas dan asal nyeletuk. Ketika saya berbicara bahasa inggris, saya cenderung lebih sopan dan menghargai hal kecil. Ketika saya berbicara bahasa Mandarin, saya cenderung kalem (karena kemampuan Mandarin saya masih perlu ditingkatkan). 



Selain bahasa, hubungan adalah salah satu hal penting yang mempengaruhi kepribadian seseorang. Hubungan keluarga dengan suatu individual berperan besar dalam pembentukkan karakter masing-masing. Biasanya, keluarga yang harmonis mempunyai peluang lebih tinggi untuk membesarkan anaknya dengan baik dibandingkan dengan keluarga yang memiliki masalah-masalah sosial.

Saya memperhatikan bagaimana teman-teman saya tumbuh. Masalah-masalah yang mereka hadapi lambat laun dapat menumpuk dan menghancurkan diri mereka. Namun, saya mendapat pelajaran kehidupan bahwa seseorang yang biasa menghadapi masalah di lingkungan sekitarnya lebih siap dan kuat secara mental ketika berhadapan dengan masyarakat. Layaknya batu yang ditetesi air akan rapuh perlahan-lahan terkikis namun tajam bagaikan belati.

Saya bersyukur saya memiliki keluarga yang mengerti dan mendengarkan saya. Sebagai anggota dari keluarga, cenderung ingin didengar. Padahal kunci utama adalah komunikasi, saling mendengarkan (didengar dan mendengar). Kami biasanya berbagi cerita mengenai aktivitas setiap harinya setidaknya pada jam makan malam. Itu merupakan hal simpel, namun berarti besar bagi pembentukkan karakter setiap individual dan juga membangun hubungan batin yang baik dalam keluarga.

Tidak banyak keluarga yang masih menyempatkan berbagi cerita di kala luang. Saya bertanya kepada diri saya, perlukah orang tua sebagai pemimpin keluarga mendapatkan parenting class dalam memimpin suatu keluarga terutama dalan mendidik anaknya? Perlukah adanya komunitas-komunitas yang membahas Parenting Issue? Tentu perlu. Anak yang luar biasa lahir dari keluarga yang berjuang bersama.

Tapi apakah hanya orang tua? Tentu tidak, kita sebagai anak juga harus mau membuka diri dan berbagi keluh kesah. 

Karena keluarga adalah tempat dimana hati ini berlabuh ketika angin tak sampai menghapus jejak-jejak kaki yang kau tinggalkan, ketika hujan tak sanggup membawa air mata itu mengalir, ketika awan tak sanggup menutupi sang mentari ketika diri ini lelah. 

Akan ada masa dimana keluarga akan berjalan bermasamu dengan peluh bercucuran ketika kau telah berjuang.